Kurikulum Merdeka yang direvisi menempatkan Pembelajaran
Mendalam dan insersi Kurikulum Berbasis Cinta ( KBC) sebagai pendekatan
utama—mendorong pemahaman utuh, keterkaitan antar konsep, berpikir kritis,
kreativitas, dan penerapan pada konteks nyata. Regulasi terbaru memperkuat arah
ini dan mendorong satuan pendidikan menyiapkan pendidik dan pimpinan untuk
membangun budaya pembelajaran yang mendalam
Tujuan supervisi kepala MTs Al islam Sumurrejo
• Meningkatkan
kualitas perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran yang menumbuhkan pemahaman
mendalam peserta didik. Sistem Informasi Kurikulum Nasional
• Membina
guru secara kolaboratif (coaching, mentoring) — bukan sekadar menilai. Scribd
• Menyelaraskan
praktik pembelajaran di kelas dengan capaian pembelajaran dan alokasi waktu
untuk pembelajaran mendalam
Prinsip supervisi guru di MTs Al islam Sumurrejo
1. Berorientasi
pada pembelajaran murid — fokus bukan hanya kegiatan guru, tapi pada proses
berpikir dan produk belajar siswa.
2. Formatif
dan kolaboratif — supervisi sebagai bimbingan berkelanjutan (coaching cycle)
bukan hukuman.
3. Kontekstual
dan berbasis bukti — observasi kelas, dokumen perencanaan, produk siswa, dan
refleksi guru.
4. Fokus
pada praktik Pembelajaran Mendalam — inquiry, problem-based learning, proyek
interdisipliner, refleksi metakognitif
Siklus supervisi praktis (langkah demi langkah)
1. Perencanaan
supervisi
• Kepala MTs
al islam Sumurrejo bersama Tim Pengembang Kurikulum menyusun rencana supervisi tahunan/semester
berdasarkan kebutuhan (hasil asesmen, observasi sebelumnya, program madrasah).
2. Persiapan
bersama guru
• Koordinasi:
kepala madrasah, Tim Pengembang Kurikulum dan guru menyepakati fokus observasi (mis.
keterlibatan siswa, pertanyaan tinggi-kognitif, penggunaan tugas autentik).
• Minta
guru mengirim RPP/modul ajar, tugas/proyek, dan target capaian.
3. Observasi
kelas terstruktur
• Lakukan
observasi langsung (atau rekaman bila perlu) menggunakan instrumen yang memuat
indikator pembelajaran mendalam: perencanaan berpijak pada capaian, aktivitas
berpikir tingkat tinggi, interaksi, penggunaan sumber belajar, asesmen
formatif, dan refleksi siswa.
4. Umpan
balik (dialog profesional)
• Berikan
umpan balik yang spesifik, berbasis bukti (contoh: “pada menit 15 terlihat 3
siswa mengajukan hipotesis — bagus; untuk memperdalam, coba minta tiap kelompok
menjelaskan alasan hipotesisnya dengan data dari eksperimen kecil”).
• Gunakan
pendekatan tanya-kurikulum: ajak guru refleksi, bukan menggurui.
5. Tindak
lanjut & pendampingan
• Susun
rencana tindak lanjut: pelatihan mini, lesson study, co-planning, atau
modelling.
• Jadwalkan
observasi ulang atau pembimbingan berkala.
6. Dokumentasi
& evaluasi
• Simpan
hasil observasi, catatan umpan balik, rencana tindak lanjut, dan bukti
peningkatan (produk siswa, rekaman, RPP revisi).
• Gunakan
data untuk perencanaan pengembangan profesional sekolah.






0 comments:
Post a Comment